Latest Entries »

UJI KULAITATIF UNTUK IDENTIFIKASI KARBOHIDRAT I DAN II

I. PENDAHULUAN
Karbohidrat sangat akrab dengan kehidupan manusia. Karena ia adalah sumber energi utama manusia. Contoh makanan sehari-hari yang mengandung karbohidrat adalah pada tepung, gandum, jagung, beras, kentang, sayur-sayuran dan lain sebagainya.
Karbohidrat adalah polihidroksildehida dan keton polihidroksil atau turunannya. selian itu, ia juga disusn oleh dua sampai delapan monosakarida yang dirujuk sebagai oligosakarida. Karbohidrat mempunyai rumus umum Cn(H2O)n. Rumus itu membuat para ahli kimia zaman dahulu menganggap karbohidrat adalah hidrat dari karbon.
Penting bagi kita untuk lebih banyak mengetahui tentang karbohidrat beserta reaksi-reaksinya, karena ia sangat penting bagi kehidupan manusia dan mahluk hidup lainnya.
Oleh karena itu, tujuan dari praktikum ini adalah mengetahui cara identifikasi karbohidrat secara kualitatif, membuktikan adanya poliusakarida dalam suatu bahan, membuktikan adanya gula pereduksi atau gula inversi, membedakan antara monosakaridan dan poliskarida, membuktikan adanya pentosa, membuktikan adanya gula ketosa (fruktosa), membedakan karbohidrat berdasarkan bentuk kristalnya, mengidetifikasi hasil hirolisis pati atau amilum, dan mengidentifikasi hasil hidrolisis sukrosa.

II. TINJAUAN PUSTAKA
Teori yang mendasari percobaan ini adalah penmabahan asam organik pekat, misalanya H2¬SO4 menyebabakan karbohidrat terhidrolisis menjadi monosakarida. Selanjutnya monosakarida jenis pentosa akan mengalami dehidrasi dengan asam tersebut menjadi furfural, semantara golongan heksisosa menjadi hidroksi-multifurfural. Pereaksi molisch yang terdiri dari a-naftol dalam alkohol akan bereaksi dengan furfural tersebut membentuk senyawa kompleks berwarna ungu. Uji ini bukan uji spesifik untuk karbohidrat, walalupun hasil reaksi yang negatif menunjukkan bahwa larutan yang diperiksa tidak mengandung karbohidrat. Warna ungu kemrah-merahan menyatakan reaksi positif, sedangka warna hijau adalah negatif.
Untuk kegaitan praktikum kedua, yang mendasari perconaan uji iodium adalah penmabahan iodium pada suatu polisakarida akan menyababkan terbentuknya kompleks adsorpsi berwarna spesifik. Amilum atau pati dengan iodium mengahailkan warna biru, dekstrin menghasilkan warna merah anggur, glikogen dan sebagian pati yang terhidrolisis bereaksi dengn iodium membantuk warna erah coklat.
Pada uji benedict, teori yang mendarsarinya adalah gula yang mengandung gugus aldehida atau keton bebas akan mereduksi ion Cu2+ dalam suasana alkalis, menjadi Cu+, yang mengendap sebagai Cu2O (kupro oksida) berwarna merah bata.
Ion Cu2+ dari pereaksi Barfoed dalam suasana asam akan direduksi lebih cepat oleh gula reduksi monosakarida dari pada disakarida dan menghasilkan Cu2O (kupro oksida) berwarna merah bata. Hal inilah yang mndasari uji Barfoed.
Pada uji bial, dasar dari percobaannya adalah dehidrasi pentosa oleh HCl pekat menghasilkan furfural dengan penambahan orsinol (3.5-dihidroksi toluena) akan berkondesasi membentuk senyawa kompleks berwarna biru.
Sedangkan dehidrasi fruktosa oleh HCL pekat menghasilkan hidroksimetilfurfural dengan penambahan resorsinol akan megalami kondensasi membentuk senyawa kompleks berwarna merah jingga menjadi dasar dari uji Seliwanoff.
Pada uji Osazon, yang mendasarinya adalah pemanasan karbohidrat yang memiliki gugus aldehida atao keton bersama fenilhidrazin berlebihan akan membentuk hidrazon atao osazon. Osazon yang terbentuk mempunyai bentuk kristal dan titik lebur yang spesifik.
Osazon dari disakarida larut dalam air mendidih dan terbentuk kembali bila didinginkan, namun sukrosa tidak membentuk osazon karena gugus aldehida dan keton yang terikat pada monomernya sudah tidak bebas., sebaliknya osazon monosakarida tidak larut dalam air mendidih.
Sedangkan teori yang mendasari hidrolisis pati dan sukrosa adalah, pati (starch) tau amilum merupakan polisakarida yang terdapat pada sebagian besar tanaman, terbagi menjadi dua fraksi yaitu amilosa dan amilopektin. Amilosa (+- 20 %) memilki strusktur linier dan dengan iodium memberikan warna biru serta larut dalam air. Fraksi yang tidak larut disebut amilopektin (+- 80 %) dengan struktur bercabang. Dengan penambahan iodium fraksi memberikan warna ungu sampai merah. Patai dalam suasana asam bila dipanaskan akan terhidrolisis menjdi senyawa-senyawa yang lebih sedrhana. Hasil hidrolisis dapat dengan iodium dan menghaislkan warna biru samapi tidak berwarna. Hasil akhir hidrolisis dapat ditegaskan dengan uji Benedict.
Sukrosa oleh HCl dalam keadaan panas akan terhirolisis, lalu menghasilkan glukosan dan fruktosa. Hal ini menyebabkan uji Benedict dan uji Seliwanoff yang sebelum hidrolisis memberikan hasil negatif menjadi positif. Uji Barfoed menjadi positif pula dan menunjukkan bahwa hidrolisis sukrosa menghasilakn monosakarida.

+HCl
Sukrosa ———– Glukosa + Fruktosa

III. METODOLOGI
Metodologi yang digunakan pada percobaan ini adalah dengan menggunakan alat-alat, bahan-bahan dan prosedur sebagai berikut :
Alat
1. Tabung reaksi Pyrex
2. Rak tabung reaksi
3. Pipet tetes
4. Lempeng tetes poselin
5. Penjepit tabung reaksi
6. Penangas air
7. Alat pemanas
8. Pipet ukur
9. Mikroskop

Bahan
1. Amilum, glokogen, dekstrin, sukrosa, laktosa, maltosa, galaktosa, fruktosa, glukosa dan arabinosa masing-masing dalam larutan 1 %.
2. Pereaksi Molisch
3. H2SO4 pekat
4. Larutan Iodium
5. Pereaksi Benedict
6. Pereaksi Barfoed
7. Perekasi Bial
8. HCl pekat (37 %)
9. Perekasi Seliwanoff
10. Fenilhidrazin-hidroklorida
11. Natrium asetat
12. HNO3 pekat
13. HCl 2 N
14. NaOH %
15. Kertas lakmus

Prosedur
A. Uji Molisch
1. Masukkan 15 tetes larutan uji kedalam tabung rekasi yang masih kering dan bersih
2. Tamabahkan 3 tetes pereaksi Molisch. Campurkan dengan baik.
3. Miringkan tabung rekasi, lalu alirkan dengan hati-hati 1 mL H2SO4 pekat melalui dinding tabung supaya tidak bercampur.
4. Perhatikan terbentuknya cincin berwarna ungu pada batas antara kedua lapisan yang menandakan reaksi positif karbohidrat.
5. Catat hadil dan buatalah kesimpulannya.

B. Uji Iodium
1. Masukkan tiga tetes larutan uji kedalam tabung reaksi atau lempeng tetes porselin.
2. Tambahkan dua tetes larutan Iodium
3. Amati warna sepesifik yang terbentuk, cata dan buatlah kesimpulannya.
C. Uji Benedict
1. Masukkan lia tetes larutan uji dan 15 tetes pereaksi Benedict ke dalam tabung reaksi. Campurkan dengan baik.
2. Didihkan di atas api kecil selama dua menit atau masukkan ke dalam penangas air mendidih selama 5 menit.
3. Dinginkan perlahan-lahan. Perhatikan warna dan endapan yang terbentuk.

D. Uji Barfoed
1. Masukkan 10 tetes larutan uji dan 10 tetes pereaksi Barfoed ke dalam tabung reaksi. Campurkan dengan baik.
2. Didihkan di atas api kecil selama satu menit atau masukkan ke dalam penangas air mendidih selama 5 menit.
3. Dinginkan perlahan-lahan. Perhatikan warna atau endapan yang terbentuk. Reaksi positif ditandai dengan terbentuknya endapan merah bata.

E. Uji Bial
1. Masukkan 5 mL larutan uji dan tambahkan 10 tetes pereaksi Bial dan 3 mL HCl pekat ke dalam tabung reaksi. Campurlah dengan baik.
2. Panaskan di atas api kecil sampai timbul gelembung-gelembung gas ke permukaan larutan
3. Perhatikan warna atau endapan yang terbentuk. Terbentuknya warna biru menunjukkan adanya pentosa.

F. Uji Seliwanoff
1. Masukkan 5 tetes larutan uji dan tambahkan 15 tetes perekasi selliwanof ke dalam tabung reaksi
2. Didihkan di atas api kecl selama 30 detik atai dalam penangas air selama 1 menit
3. Hasil positif ditandai dengan terbentuknya larutan berwarna merah jingga

G. Uji Osazon
1. Masukkan 2 mL larutan ke dalam tabungt reaksi
2. Tambahkan seujung spatel fenilhidrazin-hidroklorida an kristal natrium asetat.
3. Panaskan ke dalam penangas air mendidih selama beberapa menit (+- 30 menit)
4. Dinginkan perlaha-lahan di bawah air kran
5. Perhatikan kristal yang terbentuk dan identifikasi di bawah mikroskop.

H. Hidrolisis Pati
1. Masukkan ke dalam tabung rekasi Pyrex 5 mL larutan amilum 1 % kemudian tambahkan 2,5 mL HCl 2 N.
2. Campurtlah dengan baik, lalau masukkan ke dalam penangas air mendidih.
3. Setetlah tiga menit, ujilah dengan larutan iodium dengan cara mengambil 2 tetes larutan, lalu ditambah 2 tetes iodium dalam lempeng tetes porselin tetes. Catat perubahan warna yang terjadi.
4. Lakukan uji iodium setiap tiga menit samapi hasilnya berwarna kuning pucat.
5. Lakuakan hidrolisis selama 5 menit lagi
6. Setelah didinginkan, ambil 2 mL larutan hasil hidrolisis, lalu netrelakan dengan NaOH 2 %. Uji dengan kertas lakmus
7. Kemudaian lakuakan uji Benedict
8. Simpulakan apa yang dihasilakan dari hidrolisis pati

I. Hidrolisis Sukrosa
1. Masukkan ke dalamtabung reaksi Pyrex 5 mL larutan sukrosa 1 % kemudian tambahkan 5 tetes HCl pekat.
2. Campurlah dengan baik, lalu panaskan dalam penangas air medidih selama 30 menit.
3. Setelah didiginkan, netralkan larutan dengan NaOH 2 % dan uji dengan kertas lakmus.
4. Selanjutnya lakukan uji Benedict, Seliwanoff, dan Barfoed.
5. Simpulkan apa yang dihasilkan dari hidrolisis sukrosa.

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

Dari Praktikum 1, diperoleh hasil sebagaimana tertera di tabel. 1
Tabel. 2
No. Zat Uji Hasil Uji Molisch Karbohidrat (+/-)
1. Amilum 1 % Terbentuk cincin berwarna ungu +
2. Glikogen 1 % Terbentuk cincin berwarna ungu +
3. Dekstrin 1 % Terbentuk cincin berwarna ungu +
4. Sukrosa 1 % Terbentuk cincin berwarna ungu +
5. Laktosa 1 % Terbentuk cincin berwarna ungu +
6. Maltosa 1 % Terbentuk cincin berwarna ungu +
7. Galaktosa 1 % Terbentuk cincin berwarna ungu +
8. Fruktosa 1 % Terbentuk cincin berwarna ungu +
9. Glukosa 1% Terbentuk cincin berwarna ungu +
10. Arabinosa 1 % Terbentuk cincin berwarna ungu +
Pada uji Molisch, semua zat uji adalah termasuk karbohidrat. hal tersebut dapat dilihat pada terbentuknya cincin berwarna ungu. Reaksi yang berlangsung adalah sebagai berikut :
H O
│ ║
CH2OH—HCOH—HCOH—HCOH—C=O + H2SO4 → ─C—H +

OH
Pentosa Furfural α-naftol

H

CH2OH—HCOH—HCOH—HCOH—HCOH—C=O + H2SO4
Heksosa
O

→ H2C─ ─C—H +
│ │
OH OH
5-hidroksimetil furfural α-naftol

Rumus dari cincin ungu yang terbentuk adalah sebagai berikut:
O

║ ¬__SO3H
H2C─ ─────C───── ─OH

Cincin ungu senyawa kompleks

Pada uji Iodium, pada masing-masing zat uji memiliki indikasi yang berbeda-beda. dari sepuluh zat uji, Amilum, Glikogen, dan Dekstrin positif polisakarida.
Untuk uji Iodium, didapat hasil sebagaimana tertera di tabel 2.
Tabel . 2
No. Zat Uji Hasil Uji Iodium Polisakarida (+/-)
1. Amilum 1 % Terbentuk warna Biru Tua +
2. Glikogen 1 % Terbentuk warna Merah Coklat +
3. Dekstrin 1 % Terbentuk warna Merah Anggur +
4. Sukrosa 1 % Terbentuk warna Kuning -
5. Laktosa 1 % Terbentuk warna Kuning -
6. Maltosa 1 % Terbentuk warna Kuning -
7. Galaktosa 1 % Terbentuk warna Kuning -
8. Fruktosa 1 % Terbentuk warna Kuning -
9. Glukosa 1% Terbentuk warna Kuning -
10. Arabinosa Terbentuk warna Kuning -

Pada uji Benedict, indikator terkandungnya Gula Reduksi adalah dengan terbentuknya endapan berwarna merah bata. hal teresebut dikarenakan terbentuknya hasil reaksi berupa Cu2O.
Hasil uji pada uji Benedict adalah sebagaimana tertera di tabel. 3
Tabel 3
No. Zat Uji Hasil Uji Benedict Gula Reduksi (+/-)
1. Amilum 1 % Terbentuk warna hijau dan tidak terbentuk endapan -
2. Glikogen 1 % Terbentuk warna biru dan tidak terbentuk endapan -
3. Dekstrin 1 % Terbentuk warna biru dan endapan kuning -
4. Sukrosa 1 % Terbentuk warna biru dan tidak terbentuk endapan -
5. Laktosa 1 % Terbentuk endapan merah bata +
6. Maltosa 1 % Terbentuk endapan merah bata +
7. Galaktosa 1 % Terbentuk endapan merah bata +
8. Fruktosa 1 % Terbentuk endapan merah bata +
9. Glukosa 1% Terbentuk endapan merah bata +
10. Arabinosa Terbentuk endapan merah bata +
Berikut reaksi yang berlangsung:
O O
║ ║
R—C—H + Cu2+ 2OH- → R—C—OH + Cu2O
Gula Pereduksi Endapan Merah Bata

Pada uji Barfoed, yang terdeteksi monosakarida membentuk endapan merah bata karena terbentuk hasil Cu2O. berukut reaksinya :
O O
║ Cu2+ asetat ║
R—C—H + ─────→ R—C—OH + Cu2O+ CH3COOH
n-glukosa E.merah
monosakarida bata

Hasil uji pada uji Barfoed adalah sebagaimana tertera di tabel. 4
Tabel. 4
No. Zat Uji Hasil Uji Barfoed Monosakarida (+/-)
1. Sukrosa 1 % tidak terbentuk endapan -
2. Laktosa 1 % tidak terbentuk endapan -
3. Maltosa 1 % Tidak terbentuk endapan -
4. Galaktosa 1 % Terbentuk endapan merah bata +
5. Fruktosa1 % Terbentuk endapan merah bata +
6. Glukosa1 % Terbentuk endapan merah bata +
7. Arabinosa 1 % Terbentuk endapan merah bata +

Pada uji Bial, terkandungnya pentosa dideteksi dengan indikasi terbentuknya warna biru pada zat uji, dan hal itu terbukti pada zat uji Arabinosa 1 %.
Hasil uji pada uji Bial adalah sebagaimana tertera di tabel. 5
Tabel. 5
No. Zat Uji Hasil Uji Bial Pentosa (+/-)
1. Maltosa 1 % Bening -
2. Galaktosa 1 % Bening -
3. Fruktosa 1 % Berwarna Kuning -
4. Glukosa 1 % Bening -
5. Arabinosa1 % Berwarna Biru +

Berikut, reaksinya :

H O CH3
│ -3 H2O ║ │
CH2OH—HCOH—HCOH—HCOH—C=O + HCl ¬───→ ─C—H +
│ │
OH OH
Pentosa Furfural orsinol
(kompleks
berwarna biru)

Pada uji Seliwanof, ketosa terdeteksi pada zat uji Fruktosa dengan terbentuknya warna jingga; yaitu karena terbentuknya resorsinol.
Hasil uji pada uji Seliwanoff adalah sebagaimana tertera di tabel. 6
Tabel. 6
No. Zat Uji Hasil Uji Seliwanof Ketosa (+/-)
1. Sukrosa 1 % Kuning Jingga -
2. Galaktosa 1 % Bening -
3. Fruktosa 1 % Merah Jingga +
4. Glukosa 1 % Bening -
5. Arabinosa1 % Bening -
Berikut reaksinya :
CH2OH OH O OH OH
+HCl ║ │ │
H CH2OH ───→ H2C— —C—H + → kompleks
│ berwarna
OH H OH merah jingga
5-hidroksimetil furfural resorsinol

Pada uji Osazon, diperoleh hasil yang berbeda-beda. Masing-masing zat uji mempunyai bentuk yang khas. Hal tersebut dapat digunakan untuk membedakan antara setu karbohidrat dengan karbohidrat yang lain.

Hasil Uji Osazon adalah sebagaimana tertera di tabel 7
Tabel. 7
No. Zat Uji Hasil Uji Osazon Bentuk Kristal
1. Sukrosa 1 % Terbentuk Kristal

2. Maltosa 1 % Terbentuk Kristal

3. Galaktosa 1 % Terbentuk Kristal

4. Glukosa 1 % Terbentuk Kristal

Berikut reaksinya :
H H OH H H
│ │ │ │ │
CH2OH—C—C—C—C—C=O+H2NNHC6H5 (D-glukosa + fenilhidrazin)
│ │ │ │
OH OH H OH

H H OH H H
│ │ │ │ │
CH2OH—C—C—C—C—C=O+NNHC6H5 + H2 (D-glukosafenilhidrazon)
│ │ │ │
OH OH H OH


│2 C6H5 NHNH2

H H OH H
│ │ │ │
CH2OH—C—C—C—C—C=O+NNHC6H5 (D-glokosazon / Ozsazon kuning)
│ │ │ ║
OH OH H NNH C6H5

Pada uji hidrolisis pati, hidrolisis sempurna apabila menjadi senyawa yang lebih sederhana yang terdeteksi pada perubahan warna. Hal ini terlihat padas perubahan warna setiap tiga menit disertai perbedaan hasil hidrolisis pula. Larutan hasil hidrolisis sebelum dilakukan uji Benedict untuk menentukan hasil akhir harus dinetralkan terlebih dahulu, karena semula masih dalam suasana asam. Berikut hasil uji Hidrolisis Pati adalah sebagimana tertera di Tabel. 8
Tabel. 8
Perlakuan Hidrolisis (menit) Hasil Uji Iodium Hasil Hidrolisis
5 mL amilum 1 % ditambah 2,5 mL HCl 2 N kemudia dipanskan di penangas air mendidih 3 Biru Amilopekstin
6 Ungu Amilosa
9 Violet Amilosa
12 Merah Tua Ertitrodekstrin
15 Kuning Coklet Akrodekstrin
18 Kuning Pucat Maltosa
21 Pekat Glukosa
Hasil Akhir dengan uji Benedict yaitu terbentuknya endapan merah bata

Pada uji Hidrolisis Pati ini dilakukan uji Benedict, Seliwanoff, dan Barfoed supaya dapat mengidentifikasi monosakarida-monosakarida yang terbentuk (glukosa dan fruktosa.
Sementara itu, yang dimaksud dengan gula inverse adalah gula yang dapat memutar bidang polarisasi, karena memiliki gugus aldehida dan keton bebas. Berikut hasil uji Hidrolisis Pati adalah sebagimana tertera di Tabel. 9
Tabel. 9
Perlakuan Uji Hasil Uji
5 mL sukrosa 1 % ditambah 5 tetes HCl pekat kemudian dipanaskan di penagas air mendidih Benedict Terbentuk Endapan Merah Bata
Seliwanoff Terbentuk Merah Jingga
Barfoed Terbentuk Endapan Merah Bata

V. KESIMPULAN

1. Amilum, glokogen, dekstrin, sukrosa, laktosa, maltosa, galaktosa, fruktosa, glukosa dan arabinosa masing-masing dalam larutan 1 %. Terbukti positif karbohidrat
2. Pada Amilum, Glikogen, dan Dekstrin adalah polisakarida
3. Pada laktosa, Maltosa, Galaktosa, Fruktosa, Glukosa, dan Arabinosa terdapat gula inversi yaitu dengan terbentuknya endapan merah bata.
4. Pada Sukrosa, Laktosa, dan Maltosa adalah monosakarida. Sedangkan, Galaktosa, Fruktosa, Glukosa, dan Arabinosa adalah disakarida
5. Pada zat Uji Arabinosa, terdpaat pentosa dari uji Barfoed
6. Pada Uji Seliwanof, Ketosa terdapat pada fruktosa
7. Bentuk kristal karbohidrat pada hasil uji Osazon berbeda-beda sesuai dengan zat ujinya.
8. Hasil hidrolisis pati dan amilum adalah amilopektin, amilosa, eritrodekstrin, akrodekstrin, maltosa, dan glukosa
9. hasil hidrolisis sukrosa adalah monosakarida-monsakarida (glukosa dan freuktosa) yang terdeteksi pada uji Benedict, Seliwanoff, dan Barfoed

VI. DAFTAR PUSTAKA
Feseenden dan Fessenden. 1997. Dasar-Dasar Kimia Organik. Binarupa Aksara. Jakarta
Jalip, IS. 2008. Praktikum Kimia Organik, Edisi kesatu. Laboratorium Kimia Universitas Nasional. Jakarta

PENGARUH SUHU dan pH TERHADAP AKTIVITAS ENZIM
Metabolisme merupakan salah satu ciri kehidupan yang merupakan bentuk transformasi tenaga atau pertukaran zat melalui serangkaian reaksi biokimia. Dalam mahkluk hidup, reaksi metabolisme berlangsung dengan melibatkan suatu senyawa protein yang disebut enzim. Enzim merupakan protein yang khusus disintesis oleh sel hidup untuk mengkatalisis reaksi yang berlangsung di dalamnya. Fungsi khusus dari enzim adalah untuk menurunkan energi aktivasi, mempercepat reaksi pada suhu dan tekanan yang tetap tanpa mengubah besarnya tetapan keseimbangan dan sebagai pengendali reaksinya (Martoharsono, 1994).
Enzim adalah substansi yang dihasilkan oleh sel-sel hidup dan berperan sebagai katalisator pada reaksi kimia yang berlangsung dalam organisme. Katalisator adalah substansi yang mempercepat reaksi tetapi pada hasil reaksi, substansi tersebut tidak berubah. Enzim mempunyai ciri dimana kerjanya dipengaruhi oleh lingkungan. Salah satu lingkungan yang berpengaruh terhadap kerja enzim adalah pH. pH optimal enzim adalah sekitar pH 7 (netral) dan jika medium menjadi sangat asam atau sangat alkalis enzim mengalami inaktivasi (Gaman & Sherrington, 1994).
Suasana yang terlalu asam atau alkalis menyebabkan denaturasi protein dan hilangnya secara total aktivitas enzim. Pada sel hidup, perubahan pH sangat kecil. Enzim hanya aktif pada kisaran pH yang sempit. Oleh karena itu media harus benar-benar dipelihara dengan menggunakan buffer (larutan penyangga). Jika enzim memiliki lebih dari satu substrat, maka pH optimumnya akan berbeda pada suatu substrat (Tranggono & Sutardi, 1990). Tiap enzim memiliki karakteristik pH optimal dan aktif dalam range pH yang relatif kecil, dalam banyak kasus, bentuk kurva menandakan dari keaktifan enzim berbanding pH yang terkandung di dalamnya (Almet & Trevor, 1991).
Salah satu enzim yang diperlukan untuk pertumbuhan adalah amilase. Amilase dapat diartikan sebagai segolongan enzim yang merombak pati, glikogen dan polisakarida yang lain. Tumbuhan mengandung α dan β amilase, hewan memiliki hanya α amilase, dijumpai dalam cairan pankreas dan juga (pada manusia dan beberapa spesies lain) dalam ludah. Amilase memotong rantai polisakarida yang panjang, menghasilkan campuran glukosa dan maltosa. Amilosa merupakan polisakarida yang terdiri dari 100-1000 molekul glukosa yang saling berikatan membentuk rantai lurus. Dalam air, amilosa bereaksi dengan iodin memberikan warna biru yang khas (Fox, 1991).
Ada beberapa faktor untuk menentukan aktivitas enzim berdasarkan efek katalisnya yaitu persamaan reaksi yang dikatalis, kebutuhan kofaktor, pengaruh konsentrasi substrat dan kofaktor, pH optimal, daerah temperatur, dan penentuan berkurangnya substrat atau bertambahnya hasil reaksi. Penentuan ini biasa dilakukan di pH optimal dengan konsentrasi substrat dan kofaktor berlebih, menjadikan laju reaksi yang terjadi merupakan tingkat ke 0 (zero order reaction) terhadap substrat. Pengamatan reaksinya dengan berbagai cara kimia atau spektrofotometri. Ada dua teori tentang mekanisme pengikatan substrat oleh enzim, yaitu teori kunci dan anak kunci (lock and key) dan teori induced fit (Wirahadikusumah, 1989).
Enzim sebagai protein akan mengalami denaturasi jika suhunya dinaikkan. Akibatnya daya kerja enzim menurun. Pada suhu 45°C efek predominanya masih memperlihatkan kenaikan aktivitas sebagaimana dugaan dalam teori kinetik. Tetapi lebih dari 45°C menyebabkan denaturasi ternal lebih menonjol dan menjelang suhu 55°C fungsi katalitik enzim menjadi punah (Gaman & Sherrington, 1994). Hal ini juga terjadi karena semakin tinggi suhu semakin naik pula laju reaksi kimia baik yang dikatalisis maupun tidak. Karena itu pada suhu 40oC, larutan tidak ada gumpalan, begitu juga pada suhu ruang, sedngkan pada suhu 100oC masih ada gumpalan – gumpalan yang menunjukkan kalau enzim rusak. Pada suhu ruang, enzim masih dapat bekerja dengan baik walaupun tidak optimum (Gaman & Sherrington, 1994).
Amilase adalah enzim pemecah karbohidrat dari bentuk mejemuk menjadi bentuk yang lebih sederhana. Misalnya, pati dan glikogen dipecah menjadi maltosa, maltotriosa atau oligosakarida. Enzim ini terdapat dalam air liur (ptialin) dan getah pankreas yang membantu pencernaan karbohidrat dalam makanan. Darah normal juga mengandung sedikit amilase dari hasil pemecahan sel yang berlangsung secara normal. Pada penyakit radang pankreas, gondongan, kencing manis, kadarnya dalam darah meningkat. Sebaliknya pada penyakit hati, kadarnya menurun (Anonim, 1990).
Sifat-sifat enzim antara lain :
1. Spesifitas
Aktivitas enzim sangat spesifik karena pada umumnya enzim tertentu hanya akan mengkatalisis satu reaksi saja. Sebagai contoh, laktase menghidrolisis gula laktosa tetapi tidak berpengaruh terhadap disakarida yang lain. Hanya molekul laktosa saja yang akan sesuai dalam sisi aktif molekul (Gaman & Sherrington, 1994).
2. Pengaruh suhu
Aktivitas enzim sangat dipengaruhi oleh suhu. Untuk enzim hewan suhu optimal antara 35°C dan 40°C, yaitu suhu tubuh. Pada suhu di atas dan di bawah optimalnya, aktivitas enzim berkurang. Di atas suhu 50°C enzim secara bertahap menjadi inaktif karena protein terdenaturasi. Pada suhu 100°C semua enzim rusak. Pada suhu yang sangat rendah, enzim tidak benar-benar rusak tetapi aktivitasnya sangat banyak berkurang (Gaman & Sherrington, 1994). Enzim memiliki suhu optimum yaitu sekitar 180-230C atau maksimal 400C karena pada suhu 450C enzim akan terdenaturasi karena merupakan salah satu bentuk protein. (Tranggono & Setiadji, 1989).
Suhu yang tinggi akan menaikkan aktivitas enzim namun sebaliknya juga akan mendenaturasi enzim (Martoharsono, 1994). Peningkatan temperatur dapat meningkatkan kecepatan reaksi karena molekul atom mempunyai energi yang lebih besar dan mempunyai kecenderungan untuk berpindah. Ketika temperatur meningkat, proses denaturasi juga mulai berlangsung dan menghancurkan aktivitas molekul enzim. Hal ini dikarenakan adanya rantai protein yang tidak terlipat setelah pemutusan ikatan yang lemah sehingga secara keseluruhan kecepatan reaksi akan menurun (Lee, 1992).
3. Pengaruh pH
pH optimal enzim adalah sekitar pH 7 (netral) dan jika medium menjadi sangat asam atau sangat alkalis enzim mengalami inaktivasi. Akan tetapi beberapa enzim hanya beroperasi dalam keadaan asam atau alkalis. Sebagai contoh, pepsin, enzim yang dikeluarkan ke lambung, hanya dapat berfungsi dalam kondisi asam, dengan pH optimal 2 (Gaman & Sherrington, 1994).
Enzim memiliki konstanta disosiasi pada gugus asam ataupun gugus basa terutama pada residu terminal karboksil dan asam aminonya. Namun dalam suatu reaksi kimia, pH untuk suatu enzim tidak boleh terlalu asam maupun terlalu basa karena akan menurunkan kecepatan reaksi dengan terjadinya denaturasi. Sebenarnya enzim juga memiliki pH optimum tertentu, pada umumnya sekitar 4,5–8, dan pada kisaran pH tersebut enzim mempunyai kestabilan yang tinggi (Williamson & Fieser, 1992).
4. Ko-enzim dan aktovator
Ko-enzim adalah substansi bukan protein yang mengaktifkan enzim. Beberapa ion anorganik, misalnya ion kalsium dan ion klorida, menaikkan aktivitas beberapa enzim dan dikenal sebagai aktivator (Gaman & Sherrington, 1994).
Salah satu enzim yang diperlukan untuk pertumbuhan adalah amilase, khususnya pada tanaman yang mengandung banyak karbohidrat seperti pisang dan beberapa serealia serta bahan makanan pokok. Dimana amilase ini akan mengkatalis hidrolisis karbohidrat yang berupa pati menjadi dekstrin dan kemudian menjadi maltosa, yang terjadi saat perkecambahan serealia. Pati yang merupakan polisakarida dan tidak larut dalam air dingin serta membentuk koloid pada air panas memiliki reaksi spesifik dengan iodium. Poligalakturonase, peroksidase dan fosfatase semuanya merupakan enzim yang berfungsi menguraikan komponen kompleks menjadi sederhana sehingga bisa dikonsumsi (Kartasapoetra, 1994).
Kecepatan reaksi enzim dipengaruhi oleh berbagai kondisi fisik dan kimia. Beberapa faktor penting yang mempengaruhi kerja enzim adalah konsentrasi berbagai komponen (seperti substrat, produk, enzim, kofaktor, dll), pH, temperatur, dan gaya irisan. Kecepatan reaksi enzim sangat dipengaruhi oleh pH larutan baik secara in vivo maupun secara in vitro. Jenis hubungan antara kecepatan reaksi dan pH ditunjukkan dengan kurva berbentuk lonceng. Setiap enzim mempunyai pH optimum yang berbeda–beda (Lee, 1992).
Aktivitas enzim juga dipengaruhi oleh suhu. Untuk enzim, suhu optimal antara 35◦ C dan 40◦ C, yaitu suhu tubuh. Pada suhu di atas dan di bawah optimalnya, aktifitas enzim akan berkurang. Di atas suhu 50◦ C enzim secara bertahap menjadi inaktif karena protein terdenaturasi. Pada suhu 100◦ C semua enzim rusak. Pada suhu yang sangat rendah, enzim tidak benar-benar rusak tetapi aktivasinya sangat banyak berkurang (Gaman & Sherrington, 1994).
Kebanyakan enzim membutuhkan medium cair untuk mendukung aktivitas katalisasi air penting untuk menyusun struktur enzim. Hasil dari protein dalam air terdiri dari 3 bagian:
Tipe I : molekul air mempunyai penyusun seperti larutan murni dan tidak memiliki interaksi dengan protein.
Tipe II : molekul air tidak sepenuhnya terikat pada protein.
Tipe III : molekul air terikat kuat dengan protein menghasilkan bagian yang berkembang dalam struktur protein (Fox, 1991).
Salah satu enzim yang diperlukan untuk pertumbuhan adalah amilase. Amilase dapat diartikan sebagai segolongan enzim yang merombak pati, glikogen, dan polisakarida yang lain. Tumbuhan mengandung α dan ß amylase; hewan memiliki hanya α amylase, dijumpai dalam cairan pankreas dan juga (pada manusia dan beberapa spesies lain) dalam ludah. Amilase memotong rantai polisakarida yang panjang, menghasilkan campuran glukosa dan maltosa. Amilosa merupakan polisakarida yang terdiri dari 100-1000 molekul glukosa yang saling berikatan membentuk rantai lurus. Dalam air, amilosa bereaksi dengan iodine memberikan warna biru yang khas (Fox, 1991). Pada manusia, α amilase pada ludah dan pankreas berguna dalam hidrolisis pati yang terkandung dalam makanan ke dalam bentuk aligosakarida, di mana dalam perubahan tersebut dapat dihidrolisis oleh disakarida atau trisakarida dalam jumlah kecil. Contohnya, α amilase pada mamalia memiliki pH optimum 6-7, bergantung pada ada atau tidaknya ion halogen (Whitackr, 1994).
α amilase mempunyai beberapa sifat, antara lain :
a. Di dalam larutan pati, kehilangan daya viskositas yang lebih cepat.
b. Warna iodine akan lebih cepat hilang.
c. Proses produksi maltosa lebih lambat.
d. Tidak memproduksi glukosa.
e. Suhu tinggi konsentrasi α amylase akan mempercepat proses kerja dari viskositas dan perubahan warna iodine (Whitackr, 1994).
Larutan buffer adalah larutan yang tahan terhadap perubahan pH dengan penambahan asam atau basa. Larutan seperti itu digunakan dalam berbagai percobaan biokimia dimana dibutuhkan pH yang terkontrol dan tepat ( Fardiaz, 1992 ). Larutan buffer bermanfaat untuk melarutkan kotoran yang masih terikut di dalam endapan enzim tersebut sekaligus bisa mencegah enzim dari denaturasi dan kehilangan fungsi biologisnya ( Fox, 1991 ). Buffer dapat mempertahankan kondisi enzim presipitat agar tidak terjadi perubahan pH dan mencegah agar enzim tidak mengalami inaktivasi (Winarno, 1995 ).

CARA MEMBUAT ANIMASI MEGGUNAKAN MACROMEDIA FLASH 8
Mengerakkan Objek dengan Motion Tween
Motion Tween adalah sebuah fasilitas yang ada dalam M. Flash 8 untuk menampilkan objek disetiap frame yang dilaluinya.
Berikut ini adalah contoh sederhana dalam menggunakan motion tween :

1. Buka dokumen baru M. Flash 8
2. Rename layer1 menjadi Bola1. ( Bertujuan agar tidak membingungkan kita )
3. Pada layer Bola1, gambarkan sebuah bola pada bagian kiri stage ( layer kerja )
4. Kemudian Insert Keyframe di frame 50
5. Lalu pindahkan bola tsb ke kanan stage.
6. Selanjutnya, klik kanan pada salah satu frame antara frame 1 dan frame 50
7. Pilih Create Motion Tween. Jika anda berhasil, maka akan terlihat sebuah garis yang menghubungkan frame 1 dan frame 50. seperti di bawah ini.
8. Setelah itu pilih menu Control dan pilih Test Movie atau tekan Ctrl + Enter, untuk melihat hasilnya.
9. Selesai.
Membuat Tombol (Button) Sendiri
Button yang akan dibuat di sini dalah sebuah button yang apabila mosuse melewati, maose turun, mouse naik akan berubah warna atau settingan yang lain.
Berikut ini adalah contoh sederhana dalam membuat Button pribadi :

1. Buka dokumen baru Macromedia Flash 8
2. Kemudian pilih menu Insert, lalu klik New Symbol …
3. Dalam kotak dialog Crate New Symbol, pilh Type Button dan isi Name dengan Tombol1
4. Setelah itu akan terlihat seperti di bawah, ini adalah Stage untuk membuat Symbol
5. Lalu gambarkan sebuah lingkaran, misalnya warna Hijau ( ini berarti tombol akan berwarna hijau saat mouse dilepas dari klik). Setelah anda menggambar, akan terlihat titik hitam pada frame di bawah up.
6. Kemudian klik kanan pada frame di bawah over, lalu pilih Insert Keyframe
7. Jika Anda berhasil, akan terlihat seperti berikut
8. Kemudian ganti warna dari tombol anda dengan menggunakan Fill Color dan Line Color.
9. Misalnya Anda mengganti menjadi warna merah. Ini berarti, tombol akan berwarna merah saat mouse melewatinya.
10. Langkah saelanjutnya, Insert Keyframe lagi pada frame di bawah down
11. Lalu ganti warna lingkaran menjadi biru misalnya. Ini berarti tombol akan berwarna biru saat mouse sedang ditekan/klik.
12. Kemudian Insert Keyframe lagi pada frame dibawah hit. Lalu ganti warna lingkaran menjadi kuning. Untuk sementara kami tidak mengetahui apa itu hit.
13. Setelah itu, kliklah Scene 1 untuk kembali ke Stage normal.
14. Kemudian akan terlihat Stage normal.
15. Perhatikan pada Library, sudah terdapat tombol buatan anda dengan nama Tombol1. Kemudian klik jangan lepas dan tarik tombol tersebut ke dalam Stage.
16. Setelah itu terlihat sebuah tombol berbentuk lingkaran di dalam Stage.Akhirnya, siap untuk di-Test Movie.
Menjalankan Objek pada Lintasan Tertentu dengan Add Motion Guide
Add Motion Guide adalah sebuah fasilitas yang ada dalam M. Flash 8 untuk menambahkan sebuah lintasan sebagai jalur jalannya sebuah objek. Berikut ini adalah contoh sederhana dalam menggunakan Add Motion Guide:

1. Buka dokumen baru M. Flash 8
2. Rename layer1 menjadi Bola1. ( Bertujuan agar tidak membingungkan kita )
3. Pada layer Bola1 gambarkan sebuah bola.
4. Kemudian Insert Layer, lalu Rename menjadi Garis1
5. Pada layer Garis1, gambarkan sebuah lintasan menggunakan pencil.
6. Kemudian klik kanan pada layer Bola1, lalu pilih Add Motion Guide
7. Setelah itu, akan terlihat “Guide : Bola1” di atas layer Bola1
8. Kemudian, Klik pada layer Garis1
9. Kemudian, klik menu Edit dan pilih Cut
10. Lalu klik Layer “Guide : Bola1”. Kemudian klik kanan pada stage (layer kerja) dan pilih Paste in Place
11. Setelah itu, klik kanan lagi pada stage, pilih Snaping, dan pastikan Snap to Objects dalan keadaan aktif (terconteng).
12. Kemudian, klik pada layer Bola1
13. Lalu pindahkan Bola, sehingga pusat bola menyentuh ujung lintasan (Garis)
14. Kemudian Insert Keyframe pada frame 50 dalam layer Bola1
15. Setelah itu, Create Motion Tween di antara frame 1 dan frame 50 dalam layer Bola1
16. Insert Keyframe juga pada frame 50 dalam “Guide : Bola1”
18. Kemudian klik frame 50 dalam layer Bola1. lalu pindahkah bola ke ujung lintasan, sehingga pusat bola menyentuh ujung lintasan. Test movie
Mengontrol Movie dengan Button
Button adalah sebuah tombol yang di dalamnya berisi perintah-perintah tertentu utntuk mengendalikan suatu objek..
Berikut ini adalah contoh sederhana dalam menggunakan Button untuk mengotrol movie :

1. Buka dokumen baru Macromedia Flash 8
2. Rename (ubah nama) layer1 menjadi Mobil1. ( Bertujuan agar tidak membingungkan kita )
3. Pada layer Mobil1, gambarkan sebuah Mobil pada bagian kiri Stage ( layer kerja ). Jika tidak ada mobil, boleh juga menggunakan objek yang lain.
4. Kemudian Insert Keyframe pada frame 40. Lalu pindahkan mobil sampai ke tengah Stage.
5. Setelah itu, Insert Keyframe lagi pada frame 45. kemudian pindahkan mobil ke bagian kanan Stage. Perbedaan jarak frame, bertujuan untuk membedakan kecepatan mobil.
6. Kemudian Create Motion Tween antara frame 1 dan 40, antara frame 40 dan 45
7. Lakukan Insert Layer. Lalu Rename layer tsb menjadi Tombol. Setelah itu buatlah sebuah Button di kanan bawah Stage. Masih dalam layer Tombol, lakukan Insert Keyframe pada frame 45.

8. Kemudian klik layer Mobil1, lalu klik pada frame 1
9. Setelah itu, klik kanan pada mobil, lalu pilih Convert to Symbol …
10. Dalam kotak dialog Convert to Symbol, isi Name dengan Mobil1 dan pilih Type “Movie Clip”
11. Kemudian klik kanan pada frame 1 dalam layer Mobil1 dan pilih Actions
12. Setelah itu akan terlihat tool Actions – frame
13. Kliklah tanda Plus Biru seperti dibawah. Pilih Global Functions, Timeline Control, Stop.
14. Jika berhasil, maka akan terlihat seperti berikut ini
15. Kemudian klik kanan pada Button, lalu pilih Actions
16. Lalu klik tanda Plus, pilih Global Functions, Movie Clip Control, on
17. Kemudian contenglah kotak Press dan Release
18. Kemudian klik tanda Plus lagi dan pilih Global Functions, Timeline Control, goto
19. Pada Textbox Type, pilihlah Frame Label. Kemudian isi Mobil1 pada Textbox Frame
20. Langkah untuk membuat tombol sudah selesai. Silahkan lakukan Test Movie.
21. Jika Anda ingin menambah mobil satu lagi, lanjutkan langkah berikut.
22. Lakukan Insert Layer, Rename layer menjadi Mobil2. lalu buatlah sebuah mobil pada bagian kiri Stage
23. Kemudian Insert Keyframe pada frame 45. lalu pindahkan mobil kesebelah kiri Stage.
24. Masih dalam layer Mobil2, lakukan Create Motion Tween antara frame 1 dan 45 Akhirnya, siap untuk di-Test Movie.

chelsea terus maju

ayo chelsea tunjukkan siapa chelsea sebenarnya……..jangan biarkan sang pemangsa dimangsa…………

berjuanglah………….kami selalu ada dibelakangmu……….good luck

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.